Wanita-wanita Barokah

Rasulullah bersabda "Seorang wanita yang penuh barokah dan mendapat anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya dan buruk akhlaknya."

"Akan lebih sempurna ketaqwaan seorang mu'min", kata Rasulullah "Jika ia mempunyai seorang istri yang sholihah, jika diperintah suaminya ia patuh, jika dipandang membuat suaminya merasa senang, jika suaminya bersumpah membuatnya merasa adil, jika suaminya pergi ia akan menjaga dirinya dan harta suaminya."

Ada pernikahan yang penuh barokah dan ada yang sedikit barokahnya, dan ada yang sama sekali tidak barokah. Sebagian pernikahan kurang barokah karena niatnya yang tidak tepat. Sebagian disebabkan akhlaknya setelah menikah, tapi perubahan akhlak disebabkan juga karena niat menikah. Sebagian saat pemberian mahar. Rasulullah bersabda, "Wanita yang paling agung kebarokahannya adalah yang paling ringan maharnya."

Mahar (Mas Kawin)

Mahar merupakan suatu hak yang ditentukan oleh syariah untuk wanita sebagai ungkapan hasrat laki-laki pada calon istrinya, dan juga sebagai tanda cinta kasih serta ikatan tali kesucian. Mahar merupakan keharusan tanpa harus ditawar laki-laki. Disebut juga dengan istilah shidaq (kebenaran) yaitu menunjukan kebenaran dan kesungguhan cinta kasih laki-laki yang meminangnya.

Mahar bukanlah atas harga diri wanita, wanita tidak pernah menjual dirinya dengan mahar. Jadi makna mahar lebih dekat kepada syariat agama dalam rangka menjaga kemuliaan peristiwa suci. Mahar adalah syarat syahnya sebuah perkawinan. Juga merupakan penghormatan laki-laki kepada calon istrinya, merupakan tanggung jawab kepada Allah pembuat aturan dan kepada wanita.

Sebaik-baik Mahar

Sebuah kenangan indah dalam sejarah, yaitu mengenai pernikahan Ummu Sulaim. Tsabit berkata "Belum pernah aku mendengar mahar yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim. Ia rukun hidup bersamanya dan melahirkan anak". Apa maharnya? Dalam sunah Nasa'I bahwa Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim lalu dijawab "Demi Allah Abu Thalhah, orang seperti anda tidak akan ditolak (melamar wanita) akan tetapi anda seorang kafir sedangkan saya seorang muslimah. Tidak halal bagiku kawin dengan anda. Namun jika anda masuk Islam maka yang demikian dapat menjadi maharku. Saya tidak minta selain itu." Kemudian Abu thalhah masuk Islam untuk memenuhi maharnya."

Ada hal yang bisa dicatat bahwa mahar dapat menjadi dakwah. Mahar dapat menjadi pengikat tali kasih sekaligus menjadi syi'ar islam. Barangkali untuk tujuan ini, banyak didapati orang memberikan mahar kepada istri berupa mushaf Al Quran dan mukena. Jika ini tujuannya, kita dapat bertanya kembali apakah mahar jenis ini masih mempunyai kekuatan untuk menegakan syi'ar Islam kalau yang demikian hanya menjadi tradisi? Apalagi tidak jarang mahar hanya sekedar basa-basi formal, sedang mahar yang sesungguhnya bukan itu. Di atas kertas, mahar yang tertulis mushaf Al Quran tapi di belakangnya ada mahar yang tidak disebutkan dan dinyatakan saat itu. Jika ini terjadi, dikhawatirkan mahar bukan menjadi syi'ar Islam. Saat ini kita rasakan, mahar yang dekat dengan nafas agama justru tidak membuat hati kita bergetar, tidak membuat darah kita berdesir terkesip karena tertegun oleh keagungannya di balik yang nampak bersahaja. Apakah mahar yang berupa mushaf Al Quran tidak bisa menjadi syi'ar Islam? Insya Allah, masih mempunyai kekuatan syi'ar Islam jika kita meniatkan betul dan menjaga niat itu ketika menyampaikan mahar.

Dulu mahar berupa perlengkapan shalat mempunyai kekuatan syi'ar yang sangat kuat tapi sekarang hanya bersifat kontekstual. Selanjutnya apa yang perlu diwaspadai? Mahar bisa menjadi syi'ar tetapi juga bisa menjadi saran penilaian sosial. Yang pertama, mengarahkan masyarakat pada suatu kesan baik terhadap agama, dan mudah-mudahan hati mereka tergerak. Yang kedua, mengarahkan penilaian masyarakat mengarahkan kita untuk menentukan mahar yang disebut layak, baik dan pantas. Atau menyebutkan mahar malah dalam rangka menunjukan ketinggian derajat atau kebesaran martabat keluarga wanita yang menikah. Sehingga orang mendapat kesan lebih dari yang sesungguhnya.

Berbeda sekali antara dua hal tersebut, baik dalam makna dan akibatnya. Satu catatan, tidak ada keharusan memberikan bentuk mahar sebagai syi'ar islam. Mahar lebih dekat pada artinya kepada pemberian sebagai bukti kebenaran kasih sayangnya dan ketaatan kepada syariat Islam. Inilah yang lebih penting. Mahar juga tidak harus berupa harta, Musa as diminta menggembala kambing sebagai maharnya.

Tidak Bisa Dinilai Secara Kuantitatif

Mahar tidak bisa diukur dari sedikit banyaknya secara kuantitatif. Pernikahan Fathimah Az Zahra. Seandainya kita sempat mengetahui, yang agak lengkap sedikit tentang bagaimana wanita yang akan pertama masuk surga ini mengatur rumah tangga dan mendidik anak, betapa besar pelajaran yang diperoleh oleh kaum muslimin. Seandainya kita sempat menghayati sedikit saja bagaimana Fathimah menjadi madrasah masjid pertama bagi anak-anaknya, Insya Allah kita mendapatkan kesempurnaan cara mendidik sebaik2nya. Sehingga kelak akan lahir anak yang penuh barokah dan diridhai Allah.

Tetapi sedikit sekali yang kita ketahui, kecuali peristiwa ketika tangan putri pemimpin besar ini melepuh karena memutar gilingan. Itupun sering tidak lengkap. Sangat tinggi keagungan Fathimah Az Zahra. Ayahnya memberi julukan Ummu-Abiha (ibu yang melahirkan ayahnya), karena besar penghormatan dan kebaktian Az Zahra pada ayahnya, yaitu Rasulullah. Setiap Rasulullah datang dari berpergian, beliau singgah ke rumah Fathimah untuk menunaikan shalat 2 rakaat di masjid, baru setelah itu ia menjenguk istrinya. Kalau Fathimah datang Rasulullah segera berdiri menyambut dan menciumnya.

Sebagai istri Az Zahra merupakan teladan yang tak habis-habisnya untuk setiap muslimah. Tidak pernah ia membuat marah suaminya, karena Allah tidak menerima ibadah seorang istri sampai suaminya ridha. Tentang Az Zahra suaminya mengatakan "Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku". Fathimah memang penuh kemuliaan dan kasih sayang. Ketika suaminya pulang dari peperangan dalam keadaan luka, Fathimah merawatnya dengan penuh kasih sayang. Ia bersihkan darah suaminya Ali bin Abi Thalib dengan penuh perhatian.

Dari rahimnya lahir anak-anak yang penuh kemuliaan. Dua puteranya, Hasan dan Husein sudah kita kenal kemuliaan. Putrinya, Zaenab adalah wanita yang tegar dan penuh kehormatan berani mempertahankan diri di hadapan penguasa yang telah menghina dan memenggal leher saudaranya. Ia menyelamatkan puteranya Husein yaitu Ali Ausath yang kelak dikenal sebagai Ali Zaenal Abidin, pemuka ahli ibadah. Dan keturunan lelaki mulia ini banyak dijumpai berjuang untuk keharuman agama dan kehormatan ummat.

Bagaimanakah Fathimah melahirkan keturunan yang penuh barokah? Fathimah mendidik anak-anaknya dengan keteguhan yang mengagumkan. Sebagai gambaran, Nabi melihat Fathimah sedang menggiling dengan tangannya sambil menyusui anaknya. Maka mengalirlah air mata Rasulullah "Anakku, engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk kemanisan akhirat."

Mendengar itu Fathimah berkata "Ya, Rasulullah segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya dan pernyataan syukur hanyalah untuk Allah atas karunia-Nya."

Begitulah bagian dari pernikahan Fathimah Az Zahra dengan Ali bin Abi Thalib. Apa mahar yang diberikan Ali dalam pernikahan. Kita sudah sering mendengar Ali menjual baju besinya yang dibeli Utsman 400 dirham yang kemudian diberikan lagi kepada Ali sebagai hadiah. Uang inilah mahar dari pernikahannya.

Berapa Ukuran Mahar?

Seorang wanita datang pada Rasulullah "Ya, Rasulullah sesungguhnya aku merelakan diri untuk engkau nikahi."

Wanita itu berdiri lama, kemudiaan seorang laki-laki berdiri "Ya, Rasulullah, nikahkanlah ia denganku, jika engkau tidak berkenan menikahinya."

Kemudian Rasulullah bersabda, "Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memberinya mahar?"

Lelaki itu menjawab "Aku tidak memiliki sesuatu apapun selain kainku ini."

Rasulullah bersabda, "Jika engkau berikan kain mu itu, engkau tidak mempunyai kain lagi. Carilah sesuatu untuk diberikan kepadanya."

Lelaki itu berkata "Aku tidak menemukan apa pun."

Rasulullah bersabda "Carilah sesuatu meskipun hanya sebuah cincin besi."

Diriwayat lain Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang membayar dengan satu dirham, maka ia telah sah nikahnya."

"Sesungguhnya termasuk keberuntungan perempuan-perempuan adalah mudah melamarnya, ringan mas kawinnya dan subur rahimnya."

Dari hadits-hadits di atas kita memperoleh kesederhanaan mahar. Hadits di atas mengandung ajaran mahar tidak ditentukan batas minimalnya. Imam An Nawawi mengungkapkan makruh memberi mahar melebihi kemampuan yang dimiliki suami pada saat pernikahan. Jadi berapa ukuran mahar yang layak? Tidak bisa diungkapkan secara kuantitatif cuma tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar. Sebaiknya kerelaan antara kedua fihak.

Rasulullah bersabda "Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta tetapi kekayaan adalah kaya akan jiwa."

Peringatan Penting

Setiap yang berlebih adalah ketidak wajaran. Setiap ketidak wajaran bisa mendatangkan keburukan dan kerusakan. Mahar yang berlebih bisa menimbulkan permusuhan, tetapi mahar terlalu sedikit menyebabkan wanita merasa tidak dihormati dan dihargai. Untuk itu capailah maslahat dalam ukuran menentukan mahar.

Mempersulit Proses Pernikahan

Aisyah ra. berkata "Pernikahan itu sangat sensitif dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaan."

Akibat-akibat mempersulit pernikahan :

  • Menyebabkan perbandingan

  • Menimbulkan keraguan

  • Melemahkan kesediaan untuk berjuang bersama

  • Mengeraskan hati

 

Wanita & Cinta

Marini yang baru menikah dua bulan, akhir-akhir ini merasa gelisah. Perasaan cintanya yang sangat besar kepada Andi, suaminya membuatnya tersiksa. Ia selalu takut kehilangan Andi. Bahkan telepon dari teman kerja wanita Andi saja mampu membuatnya uring-uringan seharian.

Cinta merupakan aspek penting dalam hidup. Perjalanan yang jauh dan sukar tidak akan terasa jika diiringi cinta. Peperangan yang berat akan terasa ringan jika dipersenjatai dengan cinta. Apapun yang dilakukan akan lebih nikmat bila dibumbui cinta. Rasulullah SAW. mencintai sahabatnya dan mengekspresikannya dengan memberi gelar yang baik. Ekspresi cinta ini ternyata memberi pengaruh yang hebat sehingga semangat beramal saleh para sahabat berkobar.

Kalau begini, cinta membuat segalanya menjadi indah. Cinta mengikat antara Al-Khalik dengan manusia, laki-laki dengan wanita, orang tua dengan anak, teman dengan tetangga. Cinta mampu menjalin ikatan yang kokoh dan tahan terhadap segala cobaan, cinta juga dapat mendekatkan yang jauh.

Apakah cinta? Sering kita tak dapat mendefinisikannya. Namun kita akan tahu saat merasakannya. Cinta adalah perasaan sekaligus aktivitas. Seseorang yang jatuh cinta akan bertingkah laku cinta. Akan tetapi kita juga dapat merasa marah, frustasi, benci atau bosan kepada orang yang kita cintai. Inilah paradoks cinta. Melibatkan kontradiksi antara perasaan sayang dan marah, kegairahan dan kebosanan, kestabilan dan perubahan, ikatan dan kebebasan. Kualitas paradoks inilah yang kadang membuat kita bertanya : benarkah kita mencintainya? Fenomena cinta merupakan fitrah manusia. Dalam diri manusia ada dua jenis cinta, yakni cinta thabi'i dan cinta syar'i. Cinta thabi'i adalah cinta naluriah yang sudah dengan sendirinya dimiliki dan melekat di hati manusia, seperti cinta pada orang tua, anak, saudara, suami/istri, benda. Hal ini dijelaskan Allah SWT antara lain dalam ayat-ayat berikut :

"Dan dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik." (QS. Al Imran ayat 14)

"Katakanlah : 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggullah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya'. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At Taubah ayat 24)

Ayat-ayat ini tidak melegitimasikan cinta untuk dipuja di atas segalanya. Namun bukan berarti harus dimusnahkan. Cinta ini harus senantiasa dipupuk, dirawat dan dijaga agar sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Cinta syar'i adalah cinta yang wajib hukumnya. Cinta ini harus diadakan, ditumbuhkan, dan dipupuk sejak dini, karena tidak melekat dengan sendirinya. Ini adalah cinta yang terpenting, yakni cinta kepada Allah SWT, Rasul-Nya, dan jihad di jalan Allah.

Tentang cinta ini, Allah menggambarkannya sebagai berikut :

"Katakanlah : "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampunan lagi Maha Penyayang." (QS Al Imran ayat 31)

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang yang beriman mereka sangat cinta kepada Allah." (QS Al Baqarah ayat 165)

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya. (QS.Al Maaidah ayat 54).

Kedua jenis cinta ini harus dimiliki oleh setiap orang, namun harus berjalan seimbang/harmonis dengan manajemen yang baik dan skala prioritas yang benar.

Wanita dan Problematika Cinta

Wanita sering menjadi korban "cinta sejati", mudah terpengaruh "rayuan gombal" laki-laki. Robin Norwood, seorang terapis, dalam bukunya Woman Who Love Too Much mensinyalir bahwa ada satu gejala yang terdapat pada wanita yang sedang jatuh cinta: "When being in love means being in pain, we are love too much".

Ketagihan cinta merupakan sikap yang sangat menakutkan. Wanita sebenarnya tidak senang dengan keadaan ini. Ia ingin lepas dari semuanya, namun takut. Orang yang mencintai secara berlebihan akan dipenuhi rasa takut. Takut ditinggal sendiri, takut tidak dicintai, takut tidak dihargai, takut diabaikan. Kita mencintai laki-laki, berharap mereka akan mengurangi rasa takut. Bersikap seperti ksatria penolong. Rela hancur demi kebahagiaan orang lain semata-mata karena orang tersebut, bukan karena Allah SWT.

Wanita yang mengalami ketagihan cinta oleh Dr. Connell Cowan dan Dr. Melvyn Kinder dalam bukunya Smart Women Foolish Choices ada empat jenis :

  • Pertama, wanita yang mengaburkan antara cinta dan rindu. Pola cintanya bersifat perburuan (hunt), menguasai (conquer), dan membuang (discard). Wanita ini merasa dicintai saat awal perjumpaan sebelum ada komitmen. Begitu pria menyatakan komitmennya, ia langsung kehilangan minatnya. Baginya, cinta bukan having tetapi wanting, sehingga terjadi pengejaran tiada henti untuk mendapatkan buruan.
  • Kedua, wanita yang selalu ragu dan mempertanyakan arti dirinya di dunia. Wanita ini tidak percaya pada diri sendiri, terlebih terhadap orang lain. Ia tidak yakin bahwa ia laik dicintai. Ketidak percayaan ini selalu membuatnya gelisah, sehingga ia berpindah dari satu dari satu laki-laki kepada laki-laki lain untuk memperoleh rasa percaya diri.
  • Ketiga, Wanita yang selalu merasa tidak aman. Mereka hanya merasa aman saat bersama laki-laki. Semboyan mereka adalah "I am nothing without a man". Ia merasa kesepian dan kosong tanpa laki-laki yang mencintainya, yang membantu mereka merasa utuh. Baginya, laki-laki merupakan simbol kewanitaan. Cinta jenis ini membuat wanita berilusi untuk menemukan pria ideal yang dapat membuat mereka utuh dan aman. Wanita ini akan berpindah dari satu laki-laki kepada laki-laki lain, dan percaya bahwa menemukan laki-laki yang tepat hanya soal waktu saja.
  • Keempat, wanita yang menyukai, bahkan tergila-gila dengan percintaan. Wanita ini akan mengobral cintanya namun tidak sungguh-sungguh. Ia hanya menyenangi rasa fresh dari percintaan yang masih baru. Rasa antusias (exciting)nya akan berkurang sejalan dengan semakin dekat dan kenalnya ia dengan pasangannya. Wanita ini tidak menyadari bahwa perubahan emosi yang terjadi merupakan fenomena alamiah jika sudah saling kenal. Ia melihatnya sebagai sebuah kesalahan sehingga hilanglah cintanya.

Cinta yang berubah menjadi obsesi akan menimbulkan ketidakharmonisan. Orang yang mengalami kecanduan cinta akan memiliki kecendrungan untuk mengulang yang sudah dirasakannya, meski menyakitkan baik secara fisik maupun emosi. Dr. Connell Cowan dan Dr. Melvyn Kinder juga mengemukakan golongan wanita yang patah hati. Kesedihan yang berlarut-larut dan perasaan bahwa tidak ada lagi laki-laki sebaik "si dia" selalu menghantuinya. Setiap laki-laki yang datang selalu dibandingkan dengan "si dia". Ia terus berfantasi bahwa suatu saat "si dia" pasti akan kembali sehingga menutup mata dan hatinya. Bahkan, bukan mustahil ia menolak jodoh dari Allah SWT.

Islam adalah agama preventif. Sebelum segalanya berantakan, Allah telah mensinyalir dan mengingatkan manusia melalui ayat-ayat Al Qur'an. Urusan cinta antara wanita dan laki-laki telah diatur-Nya sedemikian rupa seperti dalam QS. Ar Rum ayat 21; menikahlah! Maka Allah SWT akan memberi ketentraman, mawaddah wa rahmah.

Subhanallah! Meletakkan cinta tertinggi kepada Allah SWT, kemudian kepada Rasul-Nya dan jihad fi sabilillah. Meletakkan cinta kepada yang lain di peringkat berikutnya adalah sikap yang harus dilatih. Sudah cukup banyak fakta tentang akibat negatif jika kita membolak-balikkan peringkat cinta. Masihkah kita ragu?

Allah menciptakan alam semesta dan manusia dalam keseimbangan, karena keseimbangan akan memberi kebahagiaan. Islam adalah agama cinta. Cinta sebagai fitrah manusia telah diatur rambunya oleh Allah SWT, Sang Khalik. Marilah kita saling menolong dalam menyelaraskan cinta thabi'i dengan cinta syar'i. Semoga Allah SWT memasukkan kita ke dalam golongan orang yang benar. Allahu a'lam bishawab. Al-haqqu mirabbik

 

Aneka Suasana Pembangkit Gairah Cinta Wanita

Astaga!HidupGaya - Apakah Anda sedang uring-uringan karena sang istri menolak diajak bercinta dalam beberapa minggu terakhir? Yah.. Kalau begitu mungkin Anda perlu mengintip bocoran di bawah ini, kira-kira dalam suasana seperti apa sih yang biasanya membuat wanita jadi mood bercinta.

Berikut bocoran agar Anda tahu kapan waktu terbaik untuk mengajak si dia bermesraan:
1. Usai pertengkaran
Konsep 'make-up sex' bukanlah sebuah mitos. Berdebat sengit dengan kekasih kadang membuat Anda sangat marah sehingga jantung berdetak lebih cepat. Dan saat Anda berdua telah melepaskan semua beban yang mengganjal dada Anda, tak ada hal yang lebih baik selain meredakan amarah dengan merangkulnya, menciuminya penuh gairah dan biarkan emosi Anda bermain. Ingat adegan Brad Pitt dan Angelina Jolie yang bercinta penuh gairah usai perang urat saraf dan senjata dalam film Mr and Mrs smith?


2. Bahagia
Seperti halnya kemarahan dan kesedihan, kebahagiaan yang berlebihan juga membuat wanita merasa ingin bercinta. Saat pasangan mendapat pekerjaan baru, dapat promosi di kantornya, lulus dengan predikat terbaik, mengetahui bakal mendapat momongan, apapun bentuk kebahagiaan tersebut, wanita memiliki gairah dan semangat positif yang berlebihan. Jadi ini saat terbaik Anda lebih agresif merayu pasangan!

3. Tertekan
Kadang aneh, dalam kondisi tertekan kita enggan bercinta. tapi percaya atau tidak stres akan meningkatkan libido wanita. Cobalah Anda pijat punggung dan bahu pasangan dengan minyak aromaterapi. Usai bercinta, ketegangan akan menurun dan otot si dia pasti lebih relaks. Cobalah.

4. Cemburu
Wanita selalu merasa terbakar jika mendengar kekasihnya bermain dengan wanita lain. Jadi, tak usah heran jika nafsu untuk duel dengan pasangan di tempat tidur makin memuncak saat si dia cemburu pada Anda!

5. Ovulasi
Wanita sangat mudah sekali 'naik' saat masa ovulasi (pelepasan telur) tiba. Kira-kira dua minggu dari datang bulan terakhir adalah saat yang tepat untuk bercinta. Tapi bukan hal yang mudah jika si dia termasuk dalam kategori datang bulan tak teratur. Belajarlah untuk kenali tanda-tandanya.

6. Pesta
Wanita cenderung mudah 'bangkit' dalam situasi romantis. Jangan heran jika usai berdansa dengan musik lembut, minum sedikit wine dan sedikit cumbuan sudah membuat si dia melayang dan ingin meneruskan ke tahap selanjutnya. Jangan lupa bisikkan kalimat sakti "I Love You" untuk memuluskan 'jalan' Anda

7. Film romantis
Tak semua wanita menyukai film panas, namun film-film dengan adegan sex yang dibintangi Brad Pitt atau Antonio Banderas terkadang bisa membuat si dia bergairah. Sewalah film yang dibintangi bintang pujaan sambil melewatkan malam berkesan bersama pasangan.

8. Long-distance relationship
Cinta jarak jauh memiliki potensi besar untuk meningkatkan gairah kehidupan seksual Anda. Berpisah dengan pasangan beberapa hari atau bahkan beberapa minggu membuat Anda dan pasangan saling merindukan satu sama lain. Jarak hanya menghubungkan Anda via komunikasi telepon, jadi saat Anda dan pasangan bertemu luapan dan gairah cinta yang selama ini Anda pendam akan meledak dan bukan tak mungkin Anda akan mengalami percintaan yang benar-benar luar biasa.

9. Kesendirian
Semakin lama wanita tak melakukan sex, semakin menumpuk gairah seksualnya. Jadi tak heran usai 'puasa sex jangka panjang' saat bertemu pasangan yang tepat si dia merasa menemukan pelepasan luar biasa pada Anda.

10. Kreatif
Jika pasangan Anda adalah pribadi yang kreatif, misalnya senang berkreasi di dapur, coba untuk sesekali merayu dan melakukan sex yang berbeda dari sex rutin biasanya. Saat si dia menyiapkan makan malam misalnya, jangan biarkan ia sibuk terlalu lama, segeralah menyelinap ke dapur dan cobalah sedikit 'pre-dinner sex'.
 

Syariat Islam Mengenai Cinta & Menikah Tanpa Cinta

MediaMuslim.Info - Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. Sebagaimana Firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendir , supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum: 21)

Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka, lapang dan sempit.

Cinta Adalah Fitrah Yang Suci
Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya.Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik.

Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia.Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia .Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga , dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya.

Islam mebersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersih dari persentuhan yang haram.

Menikah Tanpa Cinta
Adakalanya sebuah pernikahan terjadi tanpa dilandasi oleh cinta. Mereka berpendapat bahwa cinta itu bisa muncul setelah pernikahan. Islam memandang bahwa faktor ketertarikan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Islam melarang seorang wali menikahkan seorang gadis tanpa persetujuannya dan menghalanginya untuk memilih lelaki yang disukainya seperti yang termuat dalam Al Qur’an dan Al Hadist

Firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, yang artinya: “Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya” (QS. Al Baqarah: 232)

“Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu , bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam , lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya padahal ia tidak suka , lalu Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih” (HR Abu Daud)

Karena yang menjalani sebuah pernikahan adalah kedua pasangan itu bukanlah wali mereka.

Selain itu seorang yang hendak menikah hendaknyalah melihat dahulu calon pasangannya seperti termuat dalam hadist: “Apabila salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka tidaklah dosa atasnya untuk melihatnya, jika melihatnya itu untuk meminang, meskipun wanita itu tidak melihatnya” (HR. Imam Ahmad)

Memang benar dalam beberapa kasus, pasangan yang menikah tanpa didasari cinta bisa mempertahankan pernikahannya. Tapi apakah hal ini selalu terjadi, bagaimana bila yang terjadi adalah sebuah neraka pernikahan, kedua pasangan saling membenci dan saling mencaci maki satu sama lain. Sebuah pernikahan dalam islam diharapkan dapat memayungi pasangan itu untuk menikmati kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang dengan mengikat diri dalam sebuah perjanjian suci yang diberikan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala. Karena itulah rasa cinta dan kasih sayang ini sudah sepantasnya merupakan hal yang harus diperhatikan sebelum kedua pasangan mengikat diri dalam pernikahan. Karena inilah salah satu kunci kebahagian yang hakiki dalam mensikapi problematika rumah tangga nantinya.

 

Sebab CINTA memang harus diupayakan

Suatu kali seorang teman bertanya kepada saya:

“Lady, ada 2 pilihan untukmu.

  1. Menikah dengan orang yang kau cintai

  2. mencintai orang yang kau nikahi

Mana yang kau pilih?”


Saat itu spontan saya memilih yang kedua: mencintai orang yang saya nikahi (menikahi saya).

“Kenapa?”

Hhm… iya ya, kenapa?

Sebab jodoh adalah hal yang pasti, meski masih menjadi misteri bagi orang-orang yang belum menemukannya. Sedangkan mencintai adalah hal yang berbeda. Mencintai seseorang saat belum ada hak atasnya, bagaikan menggenggam bara. Jika Allah berkenan menjadikannya pendamping seumur hidup, maka bara itu akan menjelma menjadi energi untuk meciptakan kebersamaan yang indah. Tetapi, jika Allah tidak berkenan mempersatukan, bara itu akan membakar, dan bisa jadi menghanguskan diri sendiri.

Lebih dari itu, pilihan kedua rasanya lebih aman dari berbagai penyakit hati, yang bisa jadi mengotori niat suci menikah karena Allah.

Itu jawaban saya saat itu. Tetapi, beberapa jenak setelah itu, saya termenung, mencoba berfikir lebih dalam dan menyelami jauh ke dalam lubuk hati. Lalu, saya pun meneruskan pertanyaan itu ke temen saya yang lain.

Dan dia menjawabnya sama dengan jawaban saya.


Tetapi, saya ragu atas jawaban itu, benarkah begitu?

Pilihan pertama, menikah dengan orang yang saya cintai, mengalirkan energi dan semangat untuk meraih sesuatu yang menjadi dambaan hati. Dan tentu adalah hal yang sangat menyenangkan bisa berdampingan dengan orang yang dicintai, tidak ragu mengumumkannya kepada public, tidak malu mengekspresikannya, sebab cinta itu sudah dilegalkan.

Pilihan kedua, mencintai orang yang saya nikahi, hhmm… pasrah, menerima nasib. Ah tidak, saya menterjemahkannya menjadi bentuk syukur kepada-Nya. Sebab apa yang telah Allah pilihkan untuk kita, tentu itulah yang terbaik. Maka, kenapa tidak memaknai rasa syukur itu dengan mengupayakan cinta, menumbuhkan dan merawatnya.


Bukankah jika saat ini saya mencintai seseorang (padahal belum ada hak saya atasnya), itu tidak tumbuh begitu saja? Ada masa-masa, ada hal-hal, ada peristiwa yang membuat saya mencintainya. Lalu, kenapa hal-hal itu tidak bisa ditumbuhkan kepada orang yang sudah Allah pilihkan untuk saya?


Tetapi, sekali lagi, betapa menyenangkan jika yang pertamalah yang menjadi pilihan, menikah dengan orang yang saya cintai, sebagaimana Fathimah yang menikah dengan Ali, sebagaimana Khadijah yang menikah dengan Muhammad.


Tetapi, kalaupun akhirnya Allah memilihkan orang yang lain, maka pilihan kedua pun bukan hal yang tidak menyenangkan. Tidak ada yang tidak mungkin. Sebab cinta memang harus diupayakan.


Bagaimana dengan anda? Apakah akan menikah dengan orang yang anda cintai, atau akan mencintai orang yang anda nikahi?

 

Cinta

hati sebagai lambang cinta.
hati sebagai lambang cinta.

Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.

Cinta

Para pakar telah mendefinisikan dan memilah-milah istilah ini yang pengertiannya sangat rumit. Antara lain mereka membedakan:

  1. Cinta terhadapkeluarga
  2. Cinta terhadap teman-teman, atau philia
  3. Cinta yang romantis atau juga disebut asmara
  4. Cinta yang hanya merupakan hawa nafsu atau cinta eros
  5. Cinta sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
  6. Cinta dirinya sendiri, yang disebut narsisme
  7. Cinta akan sebuah konsep tertentu
  8. Cinta akan negaranya atau patriotisme
  9. Cinta akan bangsa atau nasionalisme

Beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia atau bahasa Melayu apabila dibandingkan
dengan beberapa bahasa mutakhir di Eropa, terlihat lebih banyak kosakatanya
dalam mengungkapkan konsep ini. Termasuk juga bahasa Yunani kuna, yang membedakan
antara tiga atau lebih konsep: eros, philia, dan agape.


Mendefinisikan cinta


Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam Menurut Erich
Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:


  1. Pengenalan
  2. Tanggung jawab
  3. Perhatian
  4. Saling menghormati

Seperti banyak jenis kekasih, ada banyak jenis cinta. Cinta berada di seluruh
semua kebudayaan manusia. Oleh karena perbedaan kebudayaan ini, maka pendefinisian
dari cinta pun sulit ditetapkan. Lihat hipotesis Sapir-Whorf.


Ekspresi cinta dapat termasuk cinta kepada 'jiwa' atau pikiran, cinta hukum
dan organisasi, cinta badan, cinta alam, cinta makanan, cinta uang, cinta belajar,
cinta kuasa, cinta keterkenalan, dll. Cinta lebih berarah ke konsep abstrak,
lebih mudah dialami daripada dijelaskan.


Cinta kasih yang sudah ada perlu selalu dijaga agar dapat dipertahankan keindahannya


Cinta antar pribadi


Cinta antar pribadi menunjuk kepada cinta antara manusia.

Beberapa unsur yang sering ada dalam cinta antar pribadi:


  • Afeksi: menghargai orang lain

  • Ikatan: memuaskan kebutuhan emosi dasar

  • Altruisme: perhatian non-egois kepada orang lain

  • Reciprocation: cinta yang saling menguntungkan

  • Commitment: keinginan untuk mengabadikan cinta

  • Keintiman emosional: berbagi emosi dan rasa

  • Kinship: ikatan keluarga

  • Passion: nafsu seksual

  • Physical intimacy: berbagi kehidupan erat satu sama lain

  • Self-interest: cinta yang mengharapkan imbalan pribadi

  • Service: keinginan untuk membantu

Energi seksual dapat menjadi unsur paling penting dalam menentukan bentuk hubungan. Namun atraksi seksual sering menimbulkan sebuah ikatan baru, keinginan seksual dianggap tidak baik atau tidak sepantasnya dalam beberapa ikatan cinta. Dalam banyak agama dan sistem etik hal ini dianggap salah bila memiliki keinginan seksual kepada keluarga dekat, anak, atau diluar hubungan berkomitmen. Tetapi banyak cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang tanpa seks. Afeksi, keintiman emosi dan hobby yang sama sangat biasa dalam berteman dan saudara di seluruh manusia.

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Cinta Untuk Semua - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger